Grebeg Maulud Keraton Surakarta

4 Mei 2021 | 11:42 WIB

Fisi.news. Istilah grebeg atau garebeg berasal dari kata gumrebeg, yang berarti memiliki arti luas keramaian atau perayaan. Grebeg Maulud dilaksanakan pada tanggal 12 Bulan Maulud, tujuannya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. M.B. Rahimsyah (1997) dalam bukunya yang berjudul Biografi & Legenda Wali Sanga dan Para Ulama Penerus Perjuangannya, menguraikan bahwa setelah berdirinya kerajaan Demak dan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga dengan para wali lainnya menyebarkan Islam dengan cara menerapkan kesenian yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa, seperti Karawitan.

Bertempat di pelataran Masjid Agung atas izin dari Sultan, para wali melakukan dakwah agama setelah bunyi gamelan berhenti. Bagi mereka yang tertarik dan bersedia memeluk agama baru (Islam), oleh para wali ditasbihkan dengan membaca dua kalimah syahadat serta diajarkan tuntunan praktik berwudlu. Strategi yang diterapkan Sunan Kalijaga pun berhasil menarik perhatian masyarakat Jawa untuk datang ke Masjid dan mengucapkan ikrar syahadat sebagai syarat awal memeluk Islam. Proses Islamisasi di tanah Jawa terus dilakukan salah satunya dengan cara ini. Bahkan tradisi Grebeg Maulud hingga kini tetap dilaksanakan oleh kerajaan penerus Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Hajat dalem Grebeg Maulud merupakan rangkaian acara Keraton Surakarta dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, digelar pada tanggal 12 Rabiul Awal. Acara ini merupakan acara tahunan yang sudah diselenggarakan sejak dulu, dan sangat dinantikan oleh masyarakat Solo Raya. Kenapa sangat dinantikan, karena dalam puncak acara Grebeg Maulud akan ada gunungan yang akan dibagikan kepada masyarakat. Gunungan ini berisi hasil bumi seperti sayur, buah, dan jajanan, yang merupakan perwujudan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi dari wilayah Keraton Surakarta.

Prosesi Grebeg Maulud. Acara ini diawali dengan keluarnya barisan para prajurit keraton, lalu diikuti abdi dalem yang membawa gunungan. Gunungan di kirab dari Keraton menuju Masjid Agung lalu Gunungan ini akan didoakan terlebih dahulu di Masjid Agung Keraton Surakarta sebelum dibagikan kepada masyarakat. Setelah didoakan gunungan siap dibagikan kepada masyarakat. Mereka yakin bahwa mendapatkan makanan yang telah diberi doa akan mendapatkan berkah.

Putut Hartanto/Ahmad Fauzi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*