Mengenal Lebih Dalam Tradisi Kenduri Di Tanah Jawa

Tanah di Indonesia sangatlah luas secara keseluruhan, tidak heran apabila dipenuhi banyak sekali ras dan agama, sehingga mempengaruhi munculnya berbagai macam budaya yang beraneka ragam. Salah satunya adalah tradisi Kenduri. Kenduri, kenduren atau slametan, merupakan istilah yang sama, hanya saja berbeda tempat/wilayah beda pula penyebutan. Kenduri adalah tradisi kegiatan masyarakat ditanah jawa dengan mengumpulkan pemuda/orang tua khusus laki-laki disekitar lingkungan rumah, untuk menghadiri perkumpulan serta doa dan makan bersama. Kenduri juga sebagai bentuk dari kebahagiaan dan rasa syukur kepada tuhan atas keberkahan nikmat atas rezeki yang dilimpahkan kepada hambanya. Saat berlangsungnya kenduri biasanya diketuai oleh modin atau sesepuh desa yang mengatur alurnya dengan cara pemimpin doa. Kenduri akan dilakukan saat salah satu keluarga yang mendapat rezeki atau berita baik. Kenduri akan diadakan saat ada yang setelah membeli motor atau mobil baru, sebelum berpuasa dan sebelum malam hari raya idul fitri, mendoakan anak yang berumur 35 hari, memperingati kehamilan atas anak pertama dalam kandungan yang berumur 7 bulan, memperingati putusnya tali pusar anak, slametan weton pada hari lahir di tanggal jawa, merayakan hasil panen dari para petani, khitanan dll.

Tahapan awal pada kenduri adalah memasak, satu keluarga yang mendapat rezeki akan memasak hidangan sesuai porsi yang ditetapkan dengan tamu yang datang. Hidangan sebuah kenduri tidak sembarangan, antara lain adalah nasi uduk yang dibuat nasi dengan bentuk tumpeng dengan model kerucut, ada nasi putih biasa, gudangan urap sayur dengan campuran lodeh gude, telur rebus, serundeng tahu dan tempe, suwiran ayam kampung panggang, kerupuk, pisang dan kue apem jawa. Setelah proses doa hingga selesai, hidangan tersebut akan di Hidangan dan dibagikan kepada setiap tamu lelaki yang datang tersebut, yang bisanya tamu yang diundang adalah perwakilan dari tiap per-keluarganya.

Ada yang unik dari tradisi kenduri ini, yaitu dari proses pembakaran kemenyan yang di doakan oleh modin ataupun sepuh di desa tersebut. Tujuan dilakukannya tradisi bakar kemenyan yaitu, sebagai penyeru arwah, pengiring doa pada acara selametan Secara tradisional, kemenyan digunakan sebagai campuran dupa dalam ritual Kejawen. Kemenyan biasanya banyak digunakan untuk kepentingan ritual tolak bala atau acara-acara penting dan hari bersejarah. Menurut Prof. Dr. Sutrisno Wibowo, M.Pd., seorang Guru Besar Filsafat Budaya Jawa, tradisi kenduri merupakan warisan turun-temurun yang dimodifikasi sesuai perkembangan zaman namun tetap mempertahankan nilai spiritualnya. Tradisi ini juga dianggap sebagai mekanisme sosial yang efektif untuk menjaga kerukunan dan silaturahmi antar warga masyarakat.

Asal usul kenduren, banyak kalangan berpendapat bahwa tradisi kenduren merupakan hasil karya Walisongo dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat jawa agar lebih mudah dimengerti sesuai kultur yang sudah ada di Jawa.
Slametan atau kenduri pertama kali muncul di Desa Singkal, Nganjuk, Jawa Timur, pada masa Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim yang lahir sekitar tahun 1465 M3. Beberapa pakar juga menyebutkan bahwa kenduri ini mungkin berasal dari tradisi Muslim Champa di Kamboja yang datang ke Jawa sekitar tahun 1446 hingga 1471 Masehi.

 

Reporter : Dani Arrohman
Redaktur : Endra Aji Saputra

Pos dibuat 448

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas