Melestarikan Angklung Sebagai Warisan Budaya Dunia

Fisi.news. Angklung adalah salah satu alat musik tradisional di Jawa Barat. Angklung sendiri terbuat dari bambu yang dimodifikasi mengeluarkan suara saat digoyangkan oleh tangan yang memainkannya. Dalam sejarahnya, angklung dipopulerkan oleh Daeng Soetigna pada tahun 1938. Berbeda dengan alat musik tradisional lainnya, angklung terdaftar sebagai master plece of oral and intangible heritage of humanity dari UNESCO sejak bulan November 2010 sebagai bentuk pengakuan atas betapa berharganya alat musik tradisional Indonesia ini.

Di tengah kemajuan teknologi masa kini, performa alat musik angklung masih banyak di gemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satunya pecinta angklung yang terdapat di desa Tagung, Ngargoyoso. Kelompok pecinta angklung tersebut bernama “ Kasta Percusion “, berdiri sejak tahun 2016, kasta percusion mengajak semua kalangan masyarakat terutama anak muda untuk belajar bersama mengenai alat musik tradisional angklung.

Viki Yuliyanto, salah satu orang yang mengikuti kasta percusion mengatakan “ Di kasta percusion kita bisa belajar banyak tentang angklung. Setiap hari minggu kasta percusion juga mengadakan pertunjukan angklung di air terjun jumog, dan kita juga aktif mengikuti beberapa event di Karanganyar. Kami terus mengajak kalangan masyarakat terutama kaum millenial agar lebih mencintai angklung apalagi kita harus patut berbangga karena angklung merupakan warisan budaya dunia “ ujarnya.

Pada perkembangan era saat ini, angklung bisa berkolaborasi dengan alat modern lainnya, hal itu justru malah semakin bagus karena angklung ikut dalam perkembangan jaman. Alat musik tradisional angklung patut kita lestarikan sebagai bentuk kemandirian budaya.

Viviana Arbaningtyas/Ahmad Fauzi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*